Nikita
Khruschev :
Restrukturisasi
Kepemimpinan Stalin
Yuli
Lestari/201310360311122/C
Dosen
Pembimbing : Hafid Adim Pradana, MA
Pendahuluan
Pada
tahun 1953 sepeninggalnya Stalin mengalami transisi kepemimpinan yang krusial.
Sebenarnya Stalin telah menyiapkan calon pemimpin yang baru Soviet, yaitu
Geogry Malenkov. Namun, khruschev tidak terima dan merancang scenario
sedemikian rupa sehingga Malenkov pada tahun 1955 harus menanggalkan jabatanya
sebagai sekretaris jendral.
Teror
Gulag terungkap sepeninggal Stalin, dimana penggantinya, Nikita Khruschev
dengan program Destalinisasi mengungkap berbagai kejahatan seputar kamp
konsentrasi itu. Menurut data yang diungkap pada masa Khruschev, jutaan orang
menjadi korban represi dengan tuduhan tindak kejahatan kontra-revolusi (3,7
juta orang) dimana 642 ribu dijatuhi hukuman mati, sementara sisanya dibuang
atau dikirim ke kantong – kantong Gulag di pelosok negeri.
Deportasi pada tahun 1936 hingga
tahun 1952 tercatat sekitar 3 jutawarga soviet dari berbagai suku bangsa dipindahkan
secara paksa ke wilayah – wilayah yang jauh dari tempat asalnya. System deportasi
ini ditangani oleh Bagian Deportasi NKVD yang pada tahun 1940 diubah menjadi Glavnoe Pereselencheskoe Upravlenie (Direktorat
Utama Deportasi). Proses deportasi pada umumnya dilakukan secara tidak
manusiawi. Ribuan kepala keluarga ditangkap dan digiring ke gerbong – gerbong
kereta api untuk dikirim ke tempat – tempat tujuan. Perjalanan menembus wilayah
gersang bisa memakan waktu berpuluh – puluh hari. Tak sedikitpara deportan yang
meninggal di perjalanan sebelum sampai di tempat tujuan.
Kebijakan represif Stalin ini
dihentikan setelah diktator itu meninggal pada tahun 1953. Korban – korban
represi oleh pemerintahan Khruschev di rehabilitasi dan dikembalikan ke
daerahnya masing – masing.
Upaya Rekontruksi dari Atas
Pada
tahun 1955 mekanisme dunia Komunis Rusia tampak seperti besi yang rusak dan
berkarat. Di dalam negeri Nikita Khurschev bekerja keras untuk menyusun kembali
suatu organisasi komunis yang berlandaskan fraksi – fraksi, sambal memperkokoh
kedudukannya untuk merebut tahta yang telah kosong sepeninggal Stalin. Diluar
Rusia, didalam partai Komunis yang tersebar diseluruh dunia tampak jelas
kerusakan akibat kematian Stalin.
Khruschev dikaitkan dengan sebuah
era tersendiri dalam sejarah Soviet, yang disebut masa pencairan (Thaw). Khurschev merupakan tokoh yang
lebih berpikir tentang masa depan daripada masa yang sedang dijalanya.
Khruschev meruapkan tokoh dan pemimpin yang menonjol. Dibakar oleh ungkapan
anti Stalin, muncullah berbagai revolusi di daerah – daerah jajahan Rusia.
Revolusi yang pertama terjadi di Jerman, di Cekoslavia pada tahun 1953, telah
di kaburkan oleh revolusi di Polandia dan perjuangan – perjuangan bangsa
Hongaria yang menelan banyak korban pada tahun 1956.
Awal
masa Khruschev menduduki kursi tertinggi Partai Komunis Uni Soviet setelah
meninggalnya Stalin pada awal tahun 1953. Tak lama setelah memegang tampuk
pimpinan, Khruschev mengumumkan arah kebijakan pemerintahanya yang secara garis
besar merupakan koreksi terhadap pemerintahan Stalin (Destalinisasi). Periode
ini menjadi periode yang “sejuk” setelah sekian lama masyarakat soviet hidup
dalam system yang keras gaya Stalin. Berbagai perubahan baik di idang politik,
social dan budaya secara umum terjadi secara dramatis.[1]
Mungkin inilah upaya pertama
pengenalan demokrasi dalam masyarakat rusia yang selama sekian dasawarsa,
bahkan selama sekian abad tak mengenal demokrasi. Langkah – langkah penting
dalam upaya demokratisasi kehidupan social politik adalah antara lain :
penghentian penyelidikan “Kasus Dokter”[2],
pembebasan tahanan politik yang terlibat dalam “Kasus Mingrels”[3].
Selain Khruschev berusaha
memberantas system komando admiitrasi – birokrasi yang menjadi tumpuan pada
masa Stalin, yakni dengan melancarkan kebijakan – kebijakan penghentian praktek
pengkultusan figure Stalin : dilakukan reorganisasi dan perombakan besar –
besaran di tubuh departemen dalam negeri dan organ – organ keamana negara,
serta berbagai rehabilitasi terhadap korban – korban represi Stalin.
Nikita Sergeyevich Khrushchev atau
yang biasa dikenal dengan Nikita Khrushchev merupakan negarawan dari Uni
Soviet. Lahir di Kursk, Ukraina pada tanggal Selasa 17 April 1984. Setelah ia
berebut kekuasaan dengan Stalin, Khrushchev menjabat sebagai Sekjen Partai
Komunis Uni Soviet tahun 1953 sampai 1964. Ia juga sempat menjadi Perdana
Menteri di tahun 1958 sampai 1964. Namun, di tahun 1964, ia diturunkan dari
jabatannya oleh Partai Komunis dan perannya sebagai Perdana Menteri digantikan
oleh Leonid Brezhnev. Khrushchev sering mengkritik gaya kepemimpinan Stalin
dalam memimpin Uni Soviet. Karena hal itu, banyak pendukung Stalin yang tidak
menyukai Khrushchev. [4]
Salah satu bentuk nyata dari
reformasi Khruschev adalah dihapusnya system Gulag yang merupakan bentuk
represi fisik – psikis bangsa Rusia dibawah rezim Stalin. Kebijakan
de-Stalinisasi yan dilancarkan Khruschev berbagai politik dan ekonomi, ternyata
menimbulkan ketidaksenangan di kalangan aparat pemerintahan maupun petinggi
partai Komunis. Menurut mereka hal ini mampu mengancam posisi partai komunis.
Pencapian pada masa Khruschev
Dalam
bidang kesusastraan muncul berbagai karya – karya sastra besar seperti “Sehari
dalam kehidupan Ivan Denisovich”, “Gulag Archipelago”, karya Aleksandr
Solzzhenitsyn, “Doktor Zhivago” karya Boris Pasternak dan sebagainya. Uni
Soviet muncul sebagai Negara yang sukses mengirimkan manusia ke luar angkasa
dengan penerbangan kosmonot Yuri Gagarin tahun 1961. Sebelumnya pun pada tahun
1957 Soviet meluncurkan satelit bumi buatan yang mengarungi angkasa untuk
pertama kalinya.
Pemerintahan
Khruschev melihat pentinya upaya diplomasi dalam upaya mengurangi ketengan di
dunia dengan cara membuka kerjasama Uni Soviet dengan Negara – Negara di dunia.
Tahun 1954- 1956 tercatat beberapa perundingan bilateral Uni Soviet dengan
beberapa Negara di Eropa dan Asia. Sebagai hasilnya normalisasi hubungan
diplomatic dengan Austria dan Republik Federal Jerman, perjanjian – perjanjian
pengehntian Perang dengan Jepang (1956). Pada masa kepemimpinan Khruschev,
tercatat sekitar 6.000 perusahaan telah dibangun di berbagai Negara diseluruh
dunia dengan dukungan dari Uni Soviet.
Salah
satunya yaitu bentuk kerjasama atau kedekatan antara Rusia dengan Indonesia.
Betapa
eratnya hubungan personal Soekarno dan Nikita Kruschev dapat dibaca dari
tulisan Duta Besar Hamid Awaludin “Sahabat Lama Era baru”. Diceritakan bahwa
pada tahun 1955, Soekarno berkunjung ke Leningrad (sekarang St Petersburg),
sebuah kota bersejarah dan Indah. Di Leningradi Soekarno melihat sebuah masjid
berkubah biru berarsitektur Asia Tengah yang dijadikan gudang oleh Pemerintah
Komunis Rusia. Soekarno kecewa melihat hal itu sehingga ketika ditanya kesannya
oleh Kruschev, ia menjawab bahwa Leningrad bukan kota yang indah.
Kruschev
tentu saja heran dengan pernyataan tersebut, bagaimana mungkin keindahan
Leningrad tidak terlihat oleh Soekarno. Namun setelah mengetahui alasannya,
Kruschev memahami kekecewaan Soekarno. Karena itu 10 hari setelah
kunjunganSoekarno, Kruschev merenovasi dan memerintahkan pengembalian fungsi
masjid sebagai tempat ibadah. [5]
Upaya
menjalin hubungan harmonis dengan berbagai Negara lainnya yakni Asia,
Eropadan Amerika Serikat juga dilakukan
Khruschev. Khruschev juga pernah mencanangkan koeksistensi damai yang
berhubungan dengan NATO. Khruschev pun melakukan berbagai kunjuang di berbagai
Negara salah satunya yakni di Amerika Serikat. Kunjungan pertama kali khruschev
bertemu dengan Eisenhouer pada September 1959. Walaupun usaha normalisasi ini
tidak berjalan dengan baik. Kunjunagan kedua pada masa Presiden Kennedy, namun
ketidaksepahaman mengenai status Berlin membuat kedua Negara adi kuasa itu
tetap menjaga jarak. Hubungan ini semakin memburuk ketiak 19 Agustus 1961
pemerintah Jerman Barat membangun Tembok Berlin yang meruak perjanjian Postdam[6].
Perang
Dunia ke II merupakan masa dimana bangsa Rusia menunjukkan peranannya dalam
penyelamatan Eropa. Perang yang menaln korban lebih dari 28 juta rakyat Soviet
ini dalam sejarah Rusia dikenal dengan Peranh Patriotik Besar (Velikaya Otechestvennaya). Perang yang
disebabkan provokasi terbuka Jerman dengan menyerang Polandia di perbatasan
kedua Negara. Tepat tanggal 1 september 1939 sebanyak 57 divisi tentara Jerman
diiringi sekitar 2.500 tank dan 2.000 pesawat terbang menyerbu Negara Slavia
Barat.
Ambisi
Hitler untuk menguasai Eropa, Jerman yang terikat dengan perjanjian rahasia
untuk tidak saling menyerang. Tetapi, dengan mengabaikan perjanjian rahasia
tersebut tanggal 22 Juni 1941 jerman menyerang Uni Soviet, dan menyeret Rusia
ke perang dunia ke II. Minggu tanggal 22 Juni 1941 sekitar 5 juta pasukan
Jerman yang terbagi dalam 190 divisi, 4 ribu tank dan 5 ribu peswat menyerang
wilayah Soviet dengan tujuan menguasai Leningrand. Fasisme [7]
Jerman mengerahkan 70 persen kekuatannya untuk melumpuhkan Soviet di hari
pertama penyerbuan. Pada hari pertama saja serangan udara Hitler telah
menghancurkan 1.200 pesawat Soviet dan malemahkan pertahanan Negara pimpinan
Stalin tersebut. [8]
Perlawanan
sengit terjadi di kota seluruh penjuru Rusia. Sejarah mencatat persitiwa
dramatis dalam mempertahankan dan memukul balik kekuatan Jerman seperti di Kota
– kota seperti : Moskow, Stalingrad, dan Leningrad. Sekitar 26 juta hingga 30
juta rakyat Soviet menjadi Korban dalam perang tersebut. Namun demikian korban
yang gurgu tidak menjadi hal yang sia – sia belaka. Angka tersebut memang
teramat mahal. Namun sejara mencatat hal ini untuk membebaskan Eropa dari
Nazi-Hitler.
Rusia
dan Jepang terikat perjanjian netralitas yang di tandatangani pada bulan April
1941. Hal ini juga menjadi alasan mengapa Rusia menolak AS untuk segera membuka
fornt Timur Jauh yang memang sangat menguntungkan pihak sekutu. Namun
perjanjiannitu dicabut karena karena Jepang tidak mengacuhkan ultimatum Rusia. Sebenarnya
Rusia sangat berperan dalam berakhirnya Perang Dunia ke II namun hal ini sering
diacuhkan dan hanya berfokus pada Bom Amerika Serikat di Hiroshima dan
Nagasaki.
Perang Dingin : Perseturuan NATO
dan Pakta Warshawa
Setelah
perang dunia yang usai, Rusia memperkuat otoritasnya dengan membentukhubungan
kerjasama diplomatic dengan 52 negara. Tidak hanya itu saja Rusia ikut serta
dalam Konfrensi Paris tahun 1946, dengan agenda membhasa nasib bangsa – bangsa
bekas sekutu Jerman seperti : Italia, Bulgaria, Hungaria, Rumania, dan
Finlandia. Pasca Perang Dunia ke II Rusia ikut serta memprakarsai berdirinya
PBB pada tahun 1945.
Namun
keadaan ini tidak berlangsung lama, Stalin menuduh Inggris dan AS melancarkan
kebijakan – kebijakan yang di rasa agresif di luar dari kerjasama yang telah
disepakati. Penyebab langsungnya adalah perpecahan dalam aliansi antara Uni
Soviet, AS dan Inggeris. Mereka tidak sepakat mengenai penyelesaian masalah
rekonstruksi negara-negara yang dikalahkan dalam perang, upaya memelihara
ketertiban dan keamanan dunia, dan masalah penangamm perubahan sosial ekonomi.
Beberapa
sejarawan berpendapat bahwa perang dingin sebenarnya tidak akan berkembang
menjadi ketegangan internasional apabila Presiden Roosevelt tidak meningal
dunia (April 1945) sebelum PD II berakhir, sehingga dia mampu menyelesaikan
masalah-misalah akhir perang dan masa transisi untuk menciptakan perdamaian.
Penggantinya tidak memiliki konsep yang sama mengenai tujuan dan kepentingan AS
dalam urusan diplomatik dengan Uni Soviet. [9] Dikarenakan
beberapa hal ini akhirnya terbentuklah dua blok besar yaitu Blok Barat dan Blok
Timur.
Amerika serikat pun menurangi
itensitas kerjasama dengan Uni Soviet dan Uni Soviet melakukan kebijakan “Trai
Besi” atau yang disebut dengan mengisolasi diri. Konfrontasi dua system
kekuatan ini dikenal dengan istilah Perang Dingin 1946 sampai akhir tahun
1980-an yang ditandai dengan adanya perlombaan senjata, perimbangan kekuatan
dan ancaman perang nuklir. [10]
Pada tahun 1949 AS dan sekutu – sekutunya di Barat membentuk aliansi yang
disebut dengan NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) sedang Uni Soviet membentuk
SEV atau Dewan Kerjasama Ekonomi Negara – Negara Sosialis.
Pada tahun 1955 untuk mengimbangi
kekuatan NATO, Soviet membentuk Organisasi Perjanjian Warshawa (OWD) atau yang
lebih dikenal dengan Pakta Warsawa. Pakta Warsawa merupakan sebuah perjanjian
persahabatan, kerjasama, politik dan militer yang ditanda – tanganioloeh
Albania, Bulgaria, Cekoslavia, Rumania, Jawa Timur, Hungaria, Plandia dan Uni
Soviet pada tahun 1955. Pakta Warsawa memiliki dua tugas utama dan dua cabang
utama. Political Consultative Committee bertanggung jawab untuk kegiatan
non-militer, sedangkan Unified Command of Pact Armed Forces mengkoordinasikan
kekuatan militer dari negara anggota. Pakta Warsawa akhirnya dibubarkan pada
tahun 1991 seiring dengan pembubaran Uni Soviet dan banyaknya negara bekas
anggota yang beralih ke demokrasi. [11]
Dalam Krisis Suez (1956), dukungan
Soviet terhadap Mesir yang berupaya menasionalisasi Terusan Suez, menyebabkan
sgresi kemarahan Inggris maupun Perancis. Penempatan rudal – rudaldan peralatan
militer buatan Soviet di Kuba untuk megantisipasi kemungkinan agresi AS ke
Negara sosialis itu menyebabkan Krisis Karibia pada tahun 1962 diaman AS
mengumumkan blokadi militernya. Aksi militer di Kuba ini sebenarnya di picu
oleh agresivitas AS dengan penempatan roket – roket taktisnya di teritori
Turki. [12]
Selama Perang Dingin setidaknya 19 kali Uni Soviet mengirim bantuan militer ke
Negara – Negara yang dilanda konflik. Setelah Nikita Khruschev mundur pada 14 oktober
1964 puncuk pemimpinan Komite Sentral Partai Komunis Soviet dipegang oloeh
Leonid Breschev.
Kesimpulan
Setelah
meninggalnya Stalin pada tahun 1953 terjadilah perubahan terhadap negara-negara
Komunis didunia. Sitasi ini mendorong pengganti Stalin melakukan pendekatan
kepada pihak barat. Pendekatan pada pihak barat ini juga untuk meghindari
terjadinya perang yang lebih besar karena semakin tingginyanya teknologi
persenjataan yang telah dikuasi oleh pihak barat. Ketika Khruschev menjabat
menjadi pemimpin Partai Komunis kebijakan
koeksistensi secara damai semakin diterapkan untuk menjaga keadaan
perang dingin agar yang sudah terlalu memanas. Dibawah kekuasaan Khruschev, Uni
Soviet menyatakan bahwa Khruschev tidak menyukai ajaran Stalin. Khruschev membongkar kejahatan-kejahatan yang
dilakukan oleh Stalin.
Pada
masa pemerintahan Khurschev hubungan Uni Soviet dengan Negara – Negara Eropa,
Asia, dan bahkan Amerika Serikat terjalin cukup baik. Khrsuchev juga pernah
mencanangkan koesistensi damai yang berkaitan dengan NATO . Pada saat itu Uni
Soviet telah membentuk Pakta Warsawa untuk mengimbangi dari adanya kekuatan
NATO. Kejatuhan Khrushchev pada oktober ini merupakan puncak dari ketidakpuasan
para pejabat politik Uni Soviet atas tingkah lakunya yang berlebihan bahkan
acapkali dianggap “Norak” seperti insiden pemukulan Sepatu pada sidang PBB
tanggal 12 Oktober 1960 ketika ia dikecam oleh Lorenzo Sumulong, ketua delegasi
Filipina terkait masalah kebijakan represif Khrushchev terhadap eropa timur.
[1]
Fahrurodji,A.2005. Rusia Baru Menuju Demokrasi. Jakarta : Yayasan Obor
Indonesia
[2]
Lihat Rossi, J., Spravochnik Gulagu, T.2, 1991, hlm. 422 : kasus ini berawal
dari tuduhan Stalin terhadap doter istana yang diduga akan melakukan pembunuhan
terhadap dirinya.
[3]
Kasus Mingrels mencuat ketika pemerintahan pusat menuduhkan tindakan spinase
yang dilakukan kelompok nasionalis Mingrel (Gerogia) yang melibatkan pimpinan
Partai Komunis setempat.
[4]
Putri, Dyanara. Biografi Nikita Khruschev. Diakses pada (www.profilmerdeka.com, diakses pada 13
Oktober 2015)
[5]
Lebang Tomi. 2010. Sahabat Lama, Era Baru: 60 Tahun Pasang Surut Hubungan
Indonesia-Rusia. PT Grasindo Widiasarana Indonesia.
[6]
Perjanjian Postdam diselenggarakan menyusul kekalahan Jerman pada Perang Dunia
II berdasarkan prinsip “4D” : Denazifikasi, Demiliterisasi, Demonopolisasi,
Demokratisasi. Perjanjian itu mengatur batas – batas wilayah di Negara
tersebut.
[7] Fasisme
dari bahasa Italia (Fascio) merupakan ideology, politik, dan organisasi yang
reaksioner yang bertumpu pada ultra-nasionalisme, tindakan represi yang kasar,
demagogi, dan control terhadap seluruh sendi kehidupan masyarakat dan kehidupan
pribadi. Gerakan ini juga membenarkan ekspansi terhadap wilayah Negara lain dan
sikap penghinaan terhadap demokrasi. Ideology ini muncul pertama kalinya di
Italia dan mengalami perkembangan pesat dalam Gerakan Nazisme di Jerman.
[8]
Fahrurodji,A.2005. Rusia Baru Menuju Demokrasi. Jakarta : Yayasan Obor
Indonesia
[9] http://file.upi.edu/
[10]
Fahrurodji,A.2005. Rusia Baru Menuju Demokrasi. Jakarta : Yayasan Obor
Indonesia
[12]
Fahrurodji,A.2005. Rusia Baru Menuju Demokrasi. Jakarta : Yayasan Obor
Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar