Selasa, 27 Oktober 2015

Islamophobia : Islamkah?
Islamophobia adalah ketakutan yang berlebihan terhadap Islam dan penganutnya. Islamophobia muncul karena faktor politik, dan sejarah. Islamophobia ini bukan masalah baru dalam hubungan Islam dan Barat-Kristen. Berabad-abad sejak terjadinya Perang Salib, Islamophobia sudah mulai muncul dan terkonstruk dalam pikiran dan budaya Barat. Persaingan ideologi, politik dan peradaban antara Islam dan Kristen terjadi sejak persinggungan antara keduanya, sekitar abad XI.
Terkait sejarah hubungan Islam-Barat, banyak peristiwa sejarah yang masih menjadi memori kelabu dalam memori kolektif Barat (Adian Husaini, 2007). Memori ini tampak terbuka setelah isu terorisme yang secara terang-terangan memojokkan posisi umat Islam. Isu terorisme dijadikan momentum untuk melakukan black campaign terhadap Islam. Dengan bantuan media massa dan media elektronik, kalangan Barat melakukan propaganda untuk mendeskriditkan Islam. Islam digambarkan agama yang beringas, haus darah, membenci kemajuan pihak lain, agama anti-HAM, agama teroris dan setigma negatif lainnya.[1]
Hubungan antagonis Islam dan Barat bahkan konfrontatif setidaknya disebabkan tiga faktor utama, yaitu faktor ketidaktahuan, faktor historis dan faktor media massa (Alwi Shihab: 2011). Islam dan Barat hidup dalam kecurigaan karena antara satu dengan yang lain belum memahami secara komprehensif tentang epistemologi dan ajaran masing-masing. Dari perspektif historis, rekam sejarah kolonialisme Islam terhadap sebagian wilayah Kristen atau sebagian Eropa serta sejarah kolonialisme Barat-Eropa terhadap Negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim telah memicu konfrontasi Islam dan Barat.
Sejarah lahirnya Islamophobia di Amerika Serikat tidak terlepas dari sejarah panjang Perang Salib di Timur Tengah. Islam dalam beberapa fase perang salib, memenangkan peperangan ini. Ini membuat luka yang mendalam bagi sebagian pemeluk Kristen. Islam yang masuk ke Amerika Serikat pada abad ke-16 merupakan Islam yang dibawa dari Spanyol. Ini terlihat dari para muslim yang menggunakan bahasa Spanyol[2]. Islam sejak masuknya sudah mengalami diskriminasi di Amerika Serikat. Ini terlihat dari banyaknya kasus vandalisme terhadap kaum muslim. Puncak dari vandalisme terhadap kaum muslim ini adalah ketika terjadi penyerangan terhadap menara kembar WTC. Diskriminasi terhadap islam ini disebut dengan Islamophobia. 
Islamophobia menurut Prof. Maktabi merupakan sebuah sikap yang lebih tepatnya semacam rasisme anti-islam yang di dalam hal tersebut terkandung unsur kebencian terhadap agama (islam) tersebut dan melakukan diskriminasi terhadap orang-orang yang memeluk agama tersebut (islam)[3]. Islamophobia menjadi isu yang utama setelah terjadinya penyerangan terhadap gedung World Trade Center (WTC) pada tanggal 11 September 2011. Dengan pengakuan dari Osama Bin Laden dari Jaringannya yang bernama Al Qaeda, Osama mengakui bahwa Al Qaeda adalah yang bertanggungjawab terhadap penyerangan gedung WTC tersebut[4]. Dengan latar belakang perang terhadap dunia barat dan jihad yang diserukan oleh Al Qaeda, mereka menyerang WTC.
Dalam tragedy penyerangan gedung WTC ini, 2.982 jiwa meninggal dunia[5]. Jumlah korban yang banyak tersebut, sebagian besar merupakan warga Amerika Serikat dan Inggris yang tengah bekerja di Gedung WTC[6]. Dengan jumlah korban yang mencapai ribuan tersebut dan motif jihad yang digelorakan oleh Al Qaeda, masyarakat Amerika Serikat menjadi Anti Pati terhadap Islam. Mereka yang menjadi korban dalam tragedy tersebut sangat membenci Islam.
Walaupun Al Qaeda mengaku sebagai bagian dari Islam, namun sesungguhnya AL Qaeda bukan mewakili Islam. Penduduk muslim dan 1,5 miliar umat manusia di dunia mengecam keras terjadinya aksi penyerangan ini. Islamophobia membuat sebuah perubahan besar di kalangan masyarakat Amerika Serikat. Kaum yang membenci Islam menganggap bahwa Islam merupakan agama kekerasan, penyamun dan harus dijauhi. Paradigma Islamopobhia dikalangan masyarakat Amerika Serikat tercermin dari beberapa aksi yang mereka lakukan. Penolakan terhadap pembangunan masjid di Ground Zero, Rencana aksi pembakaran kitab suci Al Quran merupakan kegiatan yang menunjukkan kebencian terhadap Islam.
Afghanistan dan Irak menjadi 2 negara yang menjadi sasaran utama Perang terhadap terorisme Global Amerika Serikat. 2 negara ini diyakini oleh Pemerintah Amerika Serikat sebagai basis kekuatan Terorisme yang terlibat dalam tragedy 9/11. Pasca serangan di WTC, Pemerintah Amerika Serikat dengan slogan GWOTnya menginvasi Afghanistan dan Irak. Dengan dukungan dari Kongres Amerika, Presiden Bush menginvasi Afghanistan dan Irak pada tahun 2003. Menjelang pemilu presiden Amerika Serikat tahun 2008, isu Islamophobia kembali menguat. Calon Presiden Amerika Serikat Barrack Hussein Obama menjadi isunya. Dengan latar belakang pernah menempuh pendidikan di Indonesia, Obama dituding pernah mendapatkan pendidikan islam radikal sewaktu  bersekolah di Indonesia[7] .
Selain itu, dengan nama tengah Hussein, yang merupakan nama orang Muslim, Obama diyakini memiliki darah keturunan Islam. Rencana pembangunan Pusat Komunitas Muslim (Cordova House) pada Januari 2010 yang didalamnya juga terdapat masjid dengan kapasitas yang mampu menampung 2000 jamaah yang digagas oleh Feisal Abdul Rauf, seorang warga Amerika Serikat keturunan Kuwait membuat isu Islamophobia di Amerika Serikat kembali mencuat[8] . Pusat komunitas muslim ini didirikan di bekas bangunan gudang Park Place yang disebut dengan Park 51 yang berlokasi 2 blok dari Ground Zero. Ground Zero merupakan lokasi bekas reruntuhan gedung World Trade Center (WTC) yang hancur pada tragedy 9/11. Lokasi yang berdekatan dengan Ground Zero ini dijadikan sebuah alas an oleh tokoh-tokoh konservatif dan Kristen ekstrem untuk menentang pembangunan pusat komunitas tersebut. Walaupun ditentang oleh para tokoh konservatif, namun pembangunan Pusat Komunitas Muslin ini mendapatkan persetujuan dari Walikota New York, Michael Bloomberg[9] . Tokoh-tokoh oposisi dari Partai Republik dan organisasi kemasyarakatan milik mereka, Tea Party ikut mendukung rencana penolakan pembangunan Cordova House ini. Dalam akun Twitter milik Sarah Palin, bekas Gubernur Alaska, Calon Wapres dari Partai Republik yang gagal pada pemilu presiden tahun 2008 menuliskan bahwa pembangunan masjid di Ground Zero.
Pembangunan Islamic Center di tempat lain di Amerika Serikat juga ditentang. Di Murfreesboro, kota berpenduduk 100.000 jiwa di Tennessee, rencana pembangunan Islamic center di lokasi seluas 15 acre mendapat tentangan keras dari kelompok ekstrem Kristen pendukung Partai Republik. Kelompok Ekstrem ini menuduh kompleks itu akan jadi tempat pelatihan teroris untuk menjatuhkan pemerintahan Amerika Serikat dan memberlakukan syariat Islam [10].  Tindakan yang menunjukkan Islamophobia di Amerika Serikat juga ditunjukkan dengan aksi pembakaran Al Quran oleh pendeta Terry Jones. Aksi pembakaran ini merupakan aksi memperingati 9 tahun tragedy 9/11. Selain itu, aksi ini juga merupakan isyarat pesan untuk kelompok muslim radikal . Eskalasi Islamophobia yang ditunjukkan oleh fakta-fakta yang sudah disebutkan diatas menjadi sebuah grafik yang naik. 
Harus diakui bahwa pasca mencuatnya isu terorisme, maka hubungan antara Islam dan Barat-Kristen sangat dingin, saling curiga dan bahkan sampai pada tataran intimidasi, baik psikis maupun fisik yang menjadi fenomena nyata yang sulit untuk disembunyikan dan ditepis. Saling percaya, saling menghormati dan menghargai semakin menipis.
Hubungan cinta Islam dan Barat-Kristen yang sama-sama bersumber dari spiritualitas ajaran masing-masing sering tereduksi oleh persaingan politik. Taufik Abdullah (2002) mengatakan, namun demikian, terkadang karena alasan politik pula hubungan tersebut dapat terjalin dan diakui pemuka Kristen. Hal ini bisa dilihat dari surat Paus Gregorius VII (w. 1085) kepada Nasir bin Nas (abad XI), putra mahkota Bani Hammud, sebuah dinasti yang berpusat di wilayah Aljazair sekarang, pada 1076. Ia menulis: “Ada sentuhan kasih antarkita, lebih daripada antara masing-masing kita dan kelompok lain. Itu karena sama-sama mengakui dan memberi kesaksian akan keesaan Tuhan, meskipun dengan cara-cara yang berbeda, dan kita memuja dan menyembah-Nya setiap hari sebagai Pencipta dan Penguasa dunia.”

           




[2] “Islam di Amerika ; Sejarah Panjang Yang Terlupakan”diakses dari http://www.eramuslim.com/berita/gerakan-dakwah/islam-di-amerika-sejarah-panjang-yang-yang-terlupakan.htm. Pada 25 november 2012
[3] “Islampophobia”, diakses di http://www.salaam.co.uk/maktabi/islamophobia.html diakses tanggal 25 November 2011
[4] “Serang AS Al- Qaeda Tidak Bertindak sendiri” diakses dari http://international.okezone.com/read/2011/08/29/414/497703/serang-as-al-qaeda-tidakbertindak diakses 25 november 2011
[5] Ibid
[6] Ibid
[7] “Tiga Kunci Obama” diakses dari http://www.beritaindonesia.co.id/mancanegara/tiga-kunci-kampanye-obama tanggal 27 Oktober 2015 pkl 10.04
[8] “Ketika islamophobia Landa Amerika” diakses dari http://hidayatullah.com/read/13080/24/08/2010/ketika- Islamophobia-landa-amerika.html. tanggal 27 Oktober 2015 pkl 10.15
[9] Diakses dari www.CBSnews.com tanggal 27 oktober 2015 pukul 10.24
[10] ibid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar