Islamophobia : Islamkah?
Islamophobia
adalah ketakutan yang berlebihan terhadap Islam dan penganutnya. Islamophobia
muncul karena faktor politik, dan sejarah. Islamophobia ini bukan masalah baru
dalam hubungan Islam dan Barat-Kristen. Berabad-abad sejak terjadinya Perang
Salib, Islamophobia sudah mulai muncul dan terkonstruk dalam pikiran dan budaya
Barat. Persaingan ideologi, politik dan peradaban antara Islam dan Kristen
terjadi sejak persinggungan antara keduanya, sekitar abad XI.
Terkait
sejarah hubungan Islam-Barat, banyak peristiwa sejarah yang masih menjadi
memori kelabu dalam memori kolektif Barat (Adian Husaini, 2007). Memori ini
tampak terbuka setelah isu terorisme yang secara terang-terangan memojokkan
posisi umat Islam. Isu terorisme dijadikan momentum untuk melakukan black
campaign terhadap Islam. Dengan bantuan media massa dan media elektronik,
kalangan Barat melakukan propaganda untuk mendeskriditkan Islam. Islam
digambarkan agama yang beringas, haus darah, membenci kemajuan pihak lain, agama
anti-HAM, agama teroris dan setigma negatif lainnya.[1]
Hubungan
antagonis Islam dan Barat bahkan konfrontatif setidaknya disebabkan tiga faktor
utama, yaitu faktor ketidaktahuan, faktor historis dan faktor media massa (Alwi
Shihab: 2011). Islam dan Barat hidup dalam kecurigaan karena antara satu dengan
yang lain belum memahami secara komprehensif tentang epistemologi dan ajaran
masing-masing. Dari perspektif historis, rekam sejarah kolonialisme Islam
terhadap sebagian wilayah Kristen atau sebagian Eropa serta sejarah
kolonialisme Barat-Eropa terhadap Negara-negara yang mayoritas berpenduduk
muslim telah memicu konfrontasi Islam dan Barat.
Sejarah
lahirnya Islamophobia di Amerika Serikat tidak terlepas dari sejarah panjang
Perang Salib di Timur Tengah. Islam dalam beberapa fase perang salib,
memenangkan peperangan ini. Ini membuat luka yang mendalam bagi sebagian pemeluk
Kristen. Islam yang masuk ke Amerika Serikat pada abad ke-16 merupakan Islam
yang dibawa dari Spanyol. Ini terlihat dari para muslim yang menggunakan bahasa
Spanyol[2].
Islam sejak masuknya sudah mengalami diskriminasi di Amerika Serikat. Ini
terlihat dari banyaknya kasus vandalisme terhadap kaum muslim. Puncak dari
vandalisme terhadap kaum muslim ini adalah ketika terjadi penyerangan terhadap
menara kembar WTC. Diskriminasi terhadap islam ini disebut dengan Islamophobia.
Islamophobia menurut Prof. Maktabi
merupakan sebuah sikap yang lebih tepatnya semacam rasisme anti-islam yang di
dalam hal tersebut terkandung unsur kebencian terhadap agama (islam) tersebut
dan melakukan diskriminasi terhadap orang-orang yang memeluk agama tersebut
(islam)[3].
Islamophobia menjadi isu yang utama setelah terjadinya penyerangan terhadap
gedung World Trade Center (WTC) pada tanggal 11 September 2011. Dengan
pengakuan dari Osama Bin Laden dari Jaringannya yang bernama Al Qaeda, Osama
mengakui bahwa Al Qaeda adalah yang bertanggungjawab terhadap penyerangan
gedung WTC tersebut[4].
Dengan latar belakang perang terhadap dunia barat dan jihad yang diserukan oleh
Al Qaeda, mereka menyerang WTC.
Dalam tragedy penyerangan gedung WTC
ini, 2.982 jiwa meninggal dunia[5].
Jumlah korban yang banyak tersebut, sebagian besar merupakan warga Amerika
Serikat dan Inggris yang tengah bekerja di Gedung WTC[6].
Dengan jumlah korban yang mencapai ribuan tersebut dan motif jihad yang
digelorakan oleh Al Qaeda, masyarakat Amerika Serikat menjadi Anti Pati
terhadap Islam. Mereka yang menjadi korban dalam tragedy tersebut sangat
membenci Islam.
Walaupun Al Qaeda mengaku sebagai bagian
dari Islam, namun sesungguhnya AL Qaeda bukan mewakili Islam. Penduduk muslim
dan 1,5 miliar umat manusia di dunia mengecam keras terjadinya aksi penyerangan
ini. Islamophobia membuat sebuah perubahan besar di kalangan masyarakat Amerika
Serikat. Kaum yang membenci Islam menganggap bahwa Islam merupakan agama
kekerasan, penyamun dan harus dijauhi. Paradigma Islamopobhia dikalangan
masyarakat Amerika Serikat tercermin dari beberapa aksi yang mereka lakukan.
Penolakan terhadap pembangunan masjid di Ground Zero, Rencana aksi pembakaran
kitab suci Al Quran merupakan kegiatan yang menunjukkan kebencian terhadap
Islam.
Afghanistan dan Irak menjadi 2 negara
yang menjadi sasaran utama Perang terhadap terorisme Global Amerika Serikat. 2
negara ini diyakini oleh Pemerintah Amerika Serikat sebagai basis kekuatan
Terorisme yang terlibat dalam tragedy 9/11. Pasca serangan di WTC, Pemerintah
Amerika Serikat dengan slogan GWOTnya menginvasi Afghanistan dan Irak. Dengan
dukungan dari Kongres Amerika, Presiden Bush menginvasi Afghanistan dan Irak
pada tahun 2003. Menjelang pemilu presiden Amerika Serikat tahun 2008, isu
Islamophobia kembali menguat. Calon Presiden Amerika Serikat Barrack Hussein
Obama menjadi isunya. Dengan latar belakang pernah menempuh pendidikan di
Indonesia, Obama dituding pernah mendapatkan pendidikan islam radikal sewaktu bersekolah di Indonesia[7] .
Selain itu, dengan nama tengah Hussein,
yang merupakan nama orang Muslim, Obama diyakini memiliki darah keturunan
Islam. Rencana pembangunan Pusat Komunitas Muslim (Cordova House) pada Januari
2010 yang didalamnya juga terdapat masjid dengan kapasitas yang mampu menampung
2000 jamaah yang digagas oleh Feisal Abdul Rauf, seorang warga Amerika Serikat
keturunan Kuwait membuat isu Islamophobia di Amerika Serikat kembali mencuat[8] .
Pusat komunitas muslim ini didirikan di bekas bangunan gudang Park Place yang
disebut dengan Park 51 yang berlokasi 2 blok dari Ground Zero. Ground Zero
merupakan lokasi bekas reruntuhan gedung World Trade Center (WTC) yang hancur
pada tragedy 9/11. Lokasi yang berdekatan dengan Ground Zero ini dijadikan
sebuah alas an oleh tokoh-tokoh konservatif dan Kristen ekstrem untuk menentang
pembangunan pusat komunitas tersebut. Walaupun ditentang oleh para tokoh
konservatif, namun pembangunan Pusat Komunitas Muslin ini mendapatkan
persetujuan dari Walikota New York, Michael Bloomberg[9] .
Tokoh-tokoh oposisi dari Partai Republik dan organisasi kemasyarakatan milik
mereka, Tea Party ikut mendukung rencana penolakan pembangunan Cordova House
ini. Dalam akun Twitter milik Sarah Palin, bekas Gubernur Alaska, Calon Wapres
dari Partai Republik yang gagal pada pemilu presiden tahun 2008 menuliskan
bahwa pembangunan masjid di Ground Zero.
Pembangunan Islamic Center di tempat
lain di Amerika Serikat juga ditentang. Di Murfreesboro, kota berpenduduk
100.000 jiwa di Tennessee, rencana pembangunan Islamic center di lokasi seluas
15 acre mendapat tentangan keras dari kelompok ekstrem Kristen pendukung Partai
Republik. Kelompok Ekstrem ini menuduh kompleks itu akan jadi tempat pelatihan
teroris untuk menjatuhkan pemerintahan Amerika Serikat dan memberlakukan
syariat Islam [10]. Tindakan yang menunjukkan Islamophobia di
Amerika Serikat juga ditunjukkan dengan aksi pembakaran Al Quran oleh pendeta
Terry Jones. Aksi pembakaran ini merupakan aksi memperingati 9 tahun tragedy
9/11. Selain itu, aksi ini juga merupakan isyarat pesan untuk kelompok muslim
radikal . Eskalasi Islamophobia yang ditunjukkan oleh fakta-fakta yang sudah
disebutkan diatas menjadi sebuah grafik yang naik.
Harus diakui bahwa pasca mencuatnya isu
terorisme, maka hubungan antara Islam dan Barat-Kristen sangat dingin, saling
curiga dan bahkan sampai pada tataran intimidasi, baik psikis maupun fisik yang
menjadi fenomena nyata yang sulit untuk disembunyikan dan ditepis. Saling
percaya, saling menghormati dan menghargai semakin menipis.
Hubungan cinta Islam dan Barat-Kristen
yang sama-sama bersumber dari spiritualitas ajaran masing-masing sering
tereduksi oleh persaingan politik. Taufik Abdullah (2002) mengatakan, namun
demikian, terkadang karena alasan politik pula hubungan tersebut dapat terjalin
dan diakui pemuka Kristen. Hal ini bisa dilihat dari surat Paus Gregorius VII
(w. 1085) kepada Nasir bin Nas (abad XI), putra mahkota Bani Hammud, sebuah
dinasti yang berpusat di wilayah Aljazair sekarang, pada 1076. Ia menulis: “Ada
sentuhan kasih antarkita, lebih daripada antara masing-masing kita dan kelompok
lain. Itu karena sama-sama mengakui dan memberi kesaksian akan keesaan Tuhan,
meskipun dengan cara-cara yang berbeda, dan kita memuja dan menyembah-Nya
setiap hari sebagai Pencipta dan Penguasa dunia.”
[2]
“Islam di Amerika ; Sejarah Panjang Yang Terlupakan”diakses dari http://www.eramuslim.com/berita/gerakan-dakwah/islam-di-amerika-sejarah-panjang-yang-yang-terlupakan.htm.
Pada 25 november 2012
[3]
“Islampophobia”, diakses di http://www.salaam.co.uk/maktabi/islamophobia.html
diakses tanggal 25 November 2011
[4]
“Serang AS Al- Qaeda Tidak Bertindak sendiri” diakses dari http://international.okezone.com/read/2011/08/29/414/497703/serang-as-al-qaeda-tidakbertindak
diakses 25 november 2011
[5]
Ibid
[6]
Ibid
[7] “Tiga
Kunci Obama” diakses dari http://www.beritaindonesia.co.id/mancanegara/tiga-kunci-kampanye-obama
tanggal 27 Oktober 2015 pkl 10.04
[8] “Ketika
islamophobia Landa Amerika” diakses dari http://hidayatullah.com/read/13080/24/08/2010/ketika-
Islamophobia-landa-amerika.html. tanggal 27 Oktober 2015 pkl 10.15
[10]
ibid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar