Serangan
paris yang terjadi pada tanggal 14 November 2015 merupakan serangan yang tidak
terduga dan mengakibatkan banyak korban diakibatkan serangan tersebut. Sejauh
ini informasi yang di dapatkan terdapat 129 orang tewas akibat serangan
tersebut. Serangan yang cukup bisa dikatakan parah adalah serangan yang
dilakukan saat konser music yang sedang berlangsung. Segerombolan ISIS yang
mengklaim dirinya sebagai Negara islam secara random menembaki seluruh kerumunan
penonton dan megancam penonton yang ada dalam ruangan.
Tidak
hanya di satu lokasi juga ISIS menyerang beberapa titik lainnya seperti pada dekat
Stade de France dan penembakan di restoran di pusat kota. Kita Tarik lagi ke
beberapa hari yang lalu, ISIS juga pernah menyerang kantor Charlie Hebdo Tragedi
Charlie Hebdo mengoyak sendi kehidupan di negeri yang memiliki moto liberte,
egalite, dan fraternite itu. Prinsip kemerdekaan, keadilan dan persaudaraan
yang didengungkan ratusan tahun dipertanyakan, apakah benar penerapannya?
Akhirnya, pemerintahan perancis pun menutup perbatasan.
Hari
dimana penyerangan itu terjadi pemerintahan paris mulai lebih memperketat
kembali jalur masuknya orang –orang yang akan menuju ke paris. Mulai memberikan
pertanyaan – pertanyaan yang lebih mendetail dan mengecek paspor penumpang
secara detail sehingga dikhawatirkan orang – orang penyerang ini tidak kabur
ataupun masuk yang lainnya. Dikhawatirkan kembali bahwa setahun ini perancis
telahh diteror kurang lebih sebanyaki 13 kali terror berdarah. Penyerangan ISIS
ini pun bisa dianalisa penyebabnya, dirasa ini merupakan perilaku atau sikap
dari perancis sendiri yang bisa jadi disebabkan karena perancis yang mulai
menyerang Suriah. Perancis mulai campur tangan dengan serangan di suriah. Tidak
hanya itu warga imigrasi yang tinggal di Perancis pun wajib mengikuti peraturan
– peraturan yang di buat oleh pemerintahan Perancis yang hal ini sesuai atau
tidak dengan syariat islam. Politisi di Perancis, baik dari sayap kiri maupun
kanan, sudah terbiasa menyalahkan Islam sebagai penyebab beragam bentuk problem
sosial yang terjadi di sana. Problem sosial yang sebenarnya dipicu oleh
diskriminasi di semua lini, termasuk dalam hak mendapatkan pekerjaan dan
perumahan. Sebenarnya, tidak ada kaitannya dengan agama.
Hal
ini menjadikan islamophobia muncul dan sangat berkembangpesat di perancis.
Bagaimana masyarkat memandang agama islam sebagai agama yang menyebarkan
kerusakan dan kehancuran di dunia ini. Ditambah lagi pemahaman masyarkat umum
mengenai islam yang “kolot” dan tidak mengikuti arus globalisasi menambah
anggapan buruk terhadap islam. Berbagai penolakan dan diskriminasi mengenai
islam di daerah eropa atau amerika serikat dan beberapa bagian lainnya. Padahal
itu semua tidak benar adanya. Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk
saling membunuh sesama manusia. Islam mengajarkan kedamaian, saling membantu
dan saling menghormati dengan agama lainnya.