Selasa, 15 Desember 2015

Islam vs Globalisasi!
Apa itu globalisasi ? pertanyaan yang mendasar namun tekadang banyak berbagai pandangan yang tidak sesuai dengan konten globalisasi. Memiliki berbagai prespektif memandang globalisasi itu sendiri. Jadi, globalisasi adalah fenomena yang  tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat geografi, budaya, dan ideologi politik sebuah negara, seolah sudah menjadi suatu kepastian yang harus terjadi. Terjadinya globalisasi ini juga mengurangi peran dari pemerintah sendiri karena individu bergerak sendiri dan mampu langsung terhubung dengan individu – individu dari berbagai belahan dunia lainnya. Munculla kekuatan – kekuatan baru yakni perusahan – perusahaan transnasional yang mampu berperan secara nyata dalam arus globalisasi. Perusahaan tersebut adalah perusahaan raksasa baik yang pabriknya berada di negara adikuasa dengan produk yang menyebar ke mancanegara ataupun perusahaan yang mempunyai cabang di negara berkembang.
Globalisasi membawa kepada kecendrungan semacam homogenitas budaya. Budaya nasional berinteraksi dengan budaya kosmopolitan dan budaya lokal pun akan berdampingan dengan budaya kosmopolitan. Fenomena ini menimbulkan disparitas persepsi dari berbagai pihak karena globalisasi dipandang sebagai problem mendasar yang ikut menentukan kualitas manusia sekarang dan yang akan datang. Perpidahan atau perubahan – perubahan yang akan terjadi akibat adanya arus yang tidak bisa dihentikan akan menjadikan budaya local menjadi tidak pure melainkan akan ada campuran dari budaya – budaya barat.
Trend yang  menjadikan hal ini mudah diterima oleh masyarakat umum terutama anak muda yang akan mengikuti. Hingga muncllah anggapan bahwa ketika kita tidak bisa mengikuti trend yang ada akan menjadi “kudet” atau “kampungan”. Sehingga mereka merasa tidak ingin ketinggalan dan tetap diterima di masyarakat “gaul” dan meninggalkan berbagai kebiasaan – kebiasaan yang telah ada sejak lama. Seperti halnya banyak anak yang mulai melepas jilbab dan memberikan warna rambutnya sesuai dengan Korean pop atupun lebih parahnya lagi ciuman dianggap hal yang wajar bagi remaja zaman sekarang ini. Hanya itu menimbulkan rasa gaul itu sendiri.
Permasalahan ini pun akhirnya permasalahan yang perlu di bahas sehingga nantinya generasi – generasi penerus bangsa menjadi generasi yang mampu menjaga kekhasan etnis dan budaya yang ada di Indonesia ini. Tidak hanya pemerintah saja yang bertanggungjawab akan adanya ini melainkan para komunitas  agampun cukup berperan dalam memberikan arahan terhadap perilaku – perilaku dengan menggunakan ilmu pengetahuan sebagai dasar arahan untuk masyarakat.
Namun, islam dipandang menjadi agama yang “kolot” dan ketinggalan jaman dikarenakan berbagai larangan – larangan yang berasal dari al – quran tidak cocok dengan zaman sekarang yang serba “bebas. Sehingga dirasa tidak cocok jika islam diterapkan dalam zaman yang katanya modern ini.
Oleh karena itu, komunitas agama perlu mempelajari ilmu pengetahuan yang ada relevansinya dengan kebutuhan masyarakat sehingga menghadapi perubahan terutama perubahan yang ditimbulkan oleh globalisasi. Globalisasi dapat mempengaruhi wawasan dan cakrawala pikiran para santri pondok pesantren. Untuk menghindari pengaruh negatif globalisasi, pesantren seharusnya menanamkan nilai-nilai agama dan akhlak pada mereka dengan pertimbangan syariat. Pengaruh globalisasi yang materialistis dan sekular adalah sebuah realitas sosial. Globalisasi selain menjadi tantangan juga memberikan peluang sehingga harus direspons secara arif. Sekularitas globalisasi tidaklah selalu mempengaruhi sendi-sendi kehidupan agama.

Dari penjabaran Islam dan globalisasi di atas maka bisa disimpulkan bahwa Islam tidak mempersoalkan tentang perkembangan globalisasi. Kehadiran globalisasi justru membawa perbaikan kepada manusia. Dalam globalisasi sangat menekankan adanya skema perdagangan yang justru membawa manusia pada pekerjaan yang lebih. Globalisasi yang bersifat kompetitif mendorong umat berupaya secara sistematik untuk memproses pembangunan manusia menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, baik fisik intelektual maupun moral. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar