Revolusi Rusia
Oleh Yuli Lestari / 201310360311122
Dosen Pembimbing : Hafid Adim Pradana, MA.
Universitas Muhamamdiyah Malang
Pada awal abad
ke-19 Rusia merupakan Negara yang terbelakang jika dibandingkan dengan Negara –
Negara eropa lainnya. Pada masa pemerintahan Tsar Nicholas II pada tahun 1894 –
1917 pemerintahannya sangat reaksioner dan bersifat otokratis. Namun pasa masa
Tsar Nicholas II ekonomi mengalami peningkatan yang sangat signifikan, terutama
dalam bidang industry, seperti tekstil, pertambangan, batubara, dan besi.
Dengan industry yang pesat inilah akhirnya muncullah kaum buruh. Rusia memiliki
2 golongan yakni kaum bangsawan dan kaum buruh. Dengan kondisi geografis rusia
yang menjadikan negara ini menjadi Negara yang agraris dimanfaatkan dengan baik
oleh kaum bangsawan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak – benyaknya dengan
menjadikan kaum tani sebagai buruh dengan upah yang sangat kecil serta
ketidaksetaraan gaji yang diterima.
Lebih parahnya
lagi posisi status petani tercatat dan dipertegas dengan adanya undang – undang
yang menjelaskan bahwa oetani merupakan budak untuk tuan rumah. Undang – undang
ini disahkan oleh Tsar Alexis I pada tahun 1646. Kondisi ini merupakan kondisi
yang sangat menyedihkan terutama kaum petani yang berkerja namun mendapatkan
gaji yang tidak setimpal.
Rusia juga
mengalami sebuah pergejolakan yang menginginkan perubahan di dalam sistem
pemerintahannya. Di dalam Revolusi Prancis mencoba menerapkan sama rasa, sama
rata. Lalu muncullnah sosialisme, menghendaki masyarakat yang lain coraknya. Karena
adanya deskriminasi golongan yang mana kaum buruh yang bekerja keras membanting
tulang hanya di beri upah yang tidak sepadan dengan kerja kerasnya, para
bangsawan semakin kaya dan kaum buruh semakin miskin. Hal inilah yang mendasari
terjadinya Revolusi di Rusia.
Penindasan yang
terjadi bertahun – tahun mengakibatkan rasa ketidakpuasan dan kekecewaan masyarakat
terhadap kepemimpinan pada saat itu tidak dapat dibendung lagi. Banyak
pemogokan dan pemberontakan terjadi. Kondisi pada saat itu benar – benar tidak
dapat dikondisikan lagi. Banyak masyarakat yang ingin adanya pembaharuan system
pemerintahan karena dirasa system pada saat itu sangat merugikan masyarakat
kecil khususnya petani dan parabangsawan mendapatkan keuntungan yang sangat
melimpah. Rakyat menuntuk adanya pemerintahan yang liberalisasi dimana terdapat
hal yang selaras dengan semboyan mereka yakni sama rasa sama rata.
Pada saat itu
Rusia mengalami kekalahan terhadap jepang. Hal ini juga merupakan salah satu alasan
yang menyebabkan maysrakat semakin kecewa dengan kepemimpian pada saat itu.
Ditengah – tengah situasi yang sedang kacau pada saat itu, Tsar Nicholas II
memberikan hawa segar dengan mengambil tindangan dengan menjamin kebebasan
berserikat dan pembentukan Duma (DPR).
Permasalahanpun
tidak begitu saja berakhir. Duma atau DPR juga menimbulkan masalah baru dimana
antara kaum sosialis dan kaum liberal memiliki presepsi yang berbeda. Kaum
sosiali menghendaki susunan masyarakat yang sosialis dan liberal menghendaki
monarki konstitusional. Akhirnya, Tsar Nicholas II membubarkan Duma. Hal ini
juga termasuk salah satu alasan terjadinya Revolusi Rusia.
Tidak hanya itu
saja, Susunan pemerintahan Tsar Nicholas bukan berdasarkan kelebihan atau
keahlihan dari orang itu sendiri. Jadi, banyak orang yang menduduki beberapa
posisi penting di dalam pemerintahan pada saat itu namun tidak memiliki
kredibilitas yang cukup. Perbedaan kelas antara bangsawan dan pekerja memang
terlihat perbedaanya. Gerakan mencapai puncaknya tahun 1905 karena mendapatkan
konsesinya gol. borjuis menghentikan gerakan dan petani telah banyak berjuang.
Tani sangat tunduk pada gereja yang bekerja sama dengan pemerintah. Kaum buruh
tetap tidak mendapat haknya petani tetap.
Minggu, 9
Januari 1905, ribuan buruh, yang banyak diantaranya menyanyikan himne dan
mengusung potret-potret Tsar, dengan penuh kepercayaan bergerak ke Istana Musim
Dingin (Winter Palace) untuk menyerahkan petisi mereka. Bukan saja Tsar menolak
menemui mereka, pasukan tentaranya malah diperintahkan untuk menembaki buruh.
Lebih dari ribuan orang tewas terbunuh dan lebih dari dua ribu menderita
luka-luka. Hari ini kemudian dikenal sebagai Minggu Berdarah dan merupakan
suatu titik balik bagi gerakan buruh.
Sejak
kekalahannya dalam perang melawan Jepang pada tahun 1905, bayangan revolusi
selalu tampak di Rusia. Berbagai gerakan rakyat menentang pemerintah ditindas
dengan kekerasan senjata. Gerakan tersebut bersifat sporadis dan seberapa pun
usaha pemerintah untuk menindasnya, gerakan-gerakan serupa selalu muncul.
Akhirnya, revolusi sungguh-sungguh terjadi di tengah Perang Dunia ketika Rusia
mengalami kekalahankekalahan besar. Sebab-sebab terjadinya revolusi sebagai
berikut.
1. Pemerintahan Tsar Nicholas II yang reaksioner. Ketika negara-negara
lain mulai mengakui hak-hak politik bagi warga negaranya, Tsar Nicholas II
masih enggan melakukan hal yang sama. Ia memang mengizinkan dibentuknya Duma
(daerah perwakilan rakyat Rusia), namun keberadaannya hanya sandiwara belaka.
Pemilihan anggota Duma dilakukan dengan pura-pura karena pada praktiknya,
anggota Duma adalah orang-orang yang propemerintahan Tsar. Hasil-hasil rapat
dan rekomendasi Duma kepada Tsar tidak pernah dihiraukan.
2. Susunan pemerintahan Tsar yang buruk. Pemerintahan pada masa Tsar
Nicholas II tidak disusun secara rasional, melainkan atas dasar favoritisme.
Tsar tidak memilih orang-orang yang cakap untuk pemerintahannya, orang-orang
yang dipilihnya untuk jabatan-jabatan pemerintahan hanyalah orang-orang yang
disukainya. Dalam hal ini, Nicholas II sangat dipengaruhi oleh istrinya,
Tsarrina Alexandra. Alexandra sendiri sangat dipengaruhi oleh seorang biarawan
yang menyebut dirinya sebagai utusan Tuhan, Grigori Rasputin. Alexandra dan
Rasputin adalah orang-orang yang sangat kolot dan benci terhadap segala macam
paham baru.
3. Perbedaan sosial yang mencolok mata Kondisi kehidupan antara kedua
golongan masyarakat di Rusia pada masa itu sangat jauh perbedaannya. Tsar dan
para bangsawan hidup mewah dan kaya raya, sementara rakyat, terutama petani dan
buruh, sangat miskin dan sengsara. Bangsawan juga memiliki berbagai macam hak
yang tidak dimiliki rakyat, bahkan banyak hak rakyat yang diabaikan. Sekalipun
perbudakan telah dihapuskan, para bangsawan tetap memperlakukan rakyat biasa
seperti budak dalam kehidupan sehari-hari.
4. Persoalan tanah. Perubahan kebijakan agraria oleh Menteri Stolypin
pada tahun 1906 hanya menghasilkan perubahan tanah-tanah mir menjadi milik
perseorangan anggota mir. Di luar mir, masih banyak tanah berukuran luas yang
menjadi milik para tuan tanah, baik bangsawan maupun para kulak (petani-petani
besar). Tanah-tanah ini dikerjakan oleh para petani kecil (buruh tani). Para
buruh tani ini lalu berusaha menuntut tanah yang seharusnya menjadi miliknya.
5. Adanya aliran-aliran yang menentang Tsar Dalam revolusi pada tahun
1905, aliran-aliran yang menentang Tsar dapat ditindas, tetapi tidak lenyap.
Mereka melakukan gerakan bawah tanah dan mengumpulkan kekuatan sambil menunggu
kesempatan untuk kembali muncul. Aliran-aliran tersebut sebagai berikut. 1)
Kaum liberal yang disebut Kadet (Konstitusional Demokrat). Aliran ini
menghendaki Rusia menjadi kerajaan yang berundang-undang dasar. 2) Kaum
sosialis menghendaki susunan masyarakat yang sosialis serta pemerintahan yang
modern dan demokratis. Kaum sosialis merupakan anasir yang revolusioner dan
terbagi lagi atas dua aliran: Mensheviks (moderat atau sosial demokrat) dan
Bolsheviks (radikal, kemudian berkembang menjadi partai komunis). Golongan
Mensheviks dipimpin oleh Georgi Plekhanou yang kemudian digantikan oleh
Kerensky. Adapun golongan Bolsheviks dipimpin oleh Lenin dan Trotsky.
6. Kekalahan perang. Ketika melibatkan diri dalam Perang Dunia I,
sebenarnya Rusia tidak mempunyai tujuan perang yang tertentu. Rusia ikut perang
karena terikat dan terseret oleh perjanjian-perjanjiannya dengan negara-negara
lain, terutama yang tergabung dalam Triple Entente. Keikutsertaan Rusia dalam
Perang Dunia I mendapat sambutan dingin dari rakyatnya. Peperangan yang tidak
didukung oleh rakyat tentu menghasilkan kekalahan. Kekalahan-kekalahan besar
Rusia (pertempuran di Tannenberg dan di sekitar danau-danau wilayah Masuri)
semakin mengecewakan hati dan melenyapkan kepercayaan rakyat kepada Tsar.
Rakyat mulai jemu pada peperangan dan menginginkan kedamaian.
7. Ancaman bahaya kelaparan. Lima belas juta warga Rusia dimobilisasi
untuk perang. Kesejahteraan mereka harus dijamin penuh oleh negara. Sementara,
banyaknya orang yang dikirim ke medan perang berakibat kurangnya tenaga kerja,
baik dalam bidang industri maupun pertanian. Macetnya industri dan pertanian
ini menimbulkan bahaya kelaparan sebab kurangnya bahan makanan. Perekonomian
negara pun menjadi kacau balau.
Revolusi ini
dimotori oleh orang-orang Kadet, Mensheviks, dan Bolsheviks. Tujuannya adalah
untuk menggulingkan Tsar. Revolusi dimulai di Petrograd (sekarang Leningrad)
berupa demonstrasi yang menuntut turunnya Tsar, diikuti oleh pemogokan di
perusahaan-perusahaan. Tentara yang diperintahkan menembaki para pemogok dan
demonstran berbalik menembaki opsir-opsirnya sendiri. Revolusi berdarah pun
meletus. Tsar ditawan dan dipaksa turun takhta.
Jika Revolusi
pada tahun 1905 tidak menggunakan pemberontakan tetapi dengan masa yang banyak
dapat terjadi tetapi hasilnya tidak menyeluruh hanya kaum borjuis saja yang
menikmati hasilnya kaum buruh tetap miskin dan kaum petani tetap saja bodoh
karena percaya terhadap gereja. Gerakan bergolak tahun 1917 saat Rusia kalah
perangDunia I. Dia memihak perancis dan Inggris melawan Jerman dan Austria.
Mekipun tentara Rusia banyak tapi tidak disiplin.
Revolusi 1917
dikenal dengan istilah Borjuis-demokrasi. Revolusi ini mengakhiri kekuasaan
monarki Rusia, memutus kekuasaan garos keturunan dinasti Rumanov, dan
memberikan dasaran bagi kehidupan yang lebih demokratis sesuai dengan tuntutan
zaman di awal abad XX. Revolusi ini terjadi karena krisi baik yang terjadi di
kalangan atas maupaun kalangan bawah. Pengumuman pemberhentian sekitar 30 ribu
pekerja di Petrograd. Banyak terjadi pemogokan besar – besaran akibat keputusan
tersebut.
Revolusi ini
telah mengakhiri system monarki yang terlah berlangsung berabad – abad di tanah
Rusia. Setelah jatuhnya Tsar, kekuasaan berada dalam Tarik – menarik dua
kekuatan basar yaitu Pemerintahan sementara di satu sisi, dengan Dewan Pekerja
dan Prajurit Petrograd di sisi lain. Walaupun pemerintah sementara lebih
memiliki legitimasi, namun secara rill kekuasaan dipegang oleh Soviet
Petrograd.
Pada tanggal 10
April 1917, Lenin kembali ke Rusia dari perantauannya ke Jerman, Prancis,
Inggris, Austria, dan Swiss sejak tahun 1907. Renacana revolusi oktober memang
telah di rancang oleh Lenin. Pada tahun yang sama, Leon Trotsky (Bronstein)
tiba di Rusia dari Amerika. Kedua orang ini lalu menjadi motor penggerak kaum
Bolsheviks yang berpaham komunis di Rusia.
Pada saat
pemerintahan Mensheviks kehilangan kepercayaan rakyat, kaum Bolsheviks
memanfaatkannya dengan segera merangkul rakyat. Mereka menganjurkan para petani
agar membagi-bagikan tanah dan menganjurkan para buruh untuk menyita
pabrik-pabrik. Sebelum menyerang Istana Musim Dingin, yang merupakan symbol
kekuasaan pemerintah, untuk ‘menghabisi’ Pemerintahan Sementara, Bolshevik
menguasai terlebih dahulu objek – objek vital seperti jembatan, stasiun kereta
api, pembangkitan listrik, bank dan sebegainya. Pendekatan ini mendapat
dukungan dan simpati dari rakyat. Dimulailah revolusi kedua ala Bolsheviks.
Revolusi kedua ini dimulai dari Petrograd lagi. Tentara dan angkatan laut di
Petrograd memihak Lenin, disusul dukungan dari tentara-tentara Difron.
Revolsui meliputi
beberapa peristwa penting yaitu Kudeta Petrorgrad pada tanggal 25 Oktober 1917
mengumumkan tentang pemindahan kekuasaan dari Pemerintahan Sementara (PS) ke
Komite Militer Revolisioner (VRK) pimpinan Pavel Lazimir. Pada saat itu juga
diumumkan beberapa tuntutan rakyat yang berisi pembentukan perdamaian yang
demokratis, penghapusan kepemilikan tanah oleh para tuan rumah, pengenalan
control pekerja atas produksi, dan pembentukan Pemerintahan Soviet. Kedua,
terjadinya Sidang Soviet seluruh-Rusia II berlangsung selama 3 hari (25-27
Oktober 1917) membentuk Pemerintahan Soviet yang dikenal dengan Soviet
Komisaris Rakyat (SNK) dan juga membentuk Komite SentralEksekutif Seluruh
Rusia.
Pada tanggal 25
Oktober 1917, pemerintahan Mensheviks digulingkan dan kaum Bolsheviks mengambil
alih kekuasaan pemerintahan. Setelah itu, segera diadakan perubahanperubahan
besar. Setelah kaum Bolsheviks memegang pemerintahan Rusia, para pengikut Tsar
yang masih setia berusaha melakukan pemberontakan. Mereka menyebut dirinya kaum
Rusia Putih (lawan dari kaum Bolsheviks yang disebut kaum Rusia Merah/Komunis).
Mereka dipimpin oleh Jenderal Denikin dan Wrangel. Sekutu (Inggris, Amerika
Serikat, Prancis, dan lain-lain) segera memihak kaum Rusia Putih, tidak
semata-mata karena mereka antikomunis, melainkan juga dikarenakan adanya
kekhawatiran menghadapi penghentian perang antara Rusia dan Jerman.
Inggris, Amerika
Serikat, dan Prancis menyerbu Rusia dari arah timur (Vladivostok), utara
(Murmansk), barat (Estonia dan Turki), dan selatan (Laut Kaspia). Akan tetapi
karena front-front negera-negara pengintervensi ini terpisahpisah jauh dan
kurang sekali adanya koordinasi antara front-front tersebut, intervensi ini
gagal. Kaum Rusia Putih rontok dan lebur. Sekeluarnya dari perang saudara antara
Rusia Putih dan Rusia Merah, kaum Bolsheviks menjadi semakin kuat dan bersatu.
Akibat-akibat
Revolusi Komunis 1917 :
-
Dihapuskannya pemerintahan Tsar yang kolot untuk
selamanya. Pemerintahan diubah dengan sistem satu partai (pemerintahan dipegang
oleh satu partai). Cobalah bandingkan dengan sistem satu partai di Jerman
(Hitler dengan NAZI-nya) dan di Italia (Mussolini dengan fasismenya).
-
Timbulnya demokrasi Soviet sebagai lawan dari
demokrasi liberal. Demokrasi liberal atau parlementer dianggap Lenin kurang
demokratis sebab biasanya parlemen diduduki oleh orang-orang dari kelas
menengah ke atas, sementara rakyat jelata tidak tahu apaapa. Lenin lebih suka
membentuk dewan-dewan rakyat (Soviet) yang mewakili suara masyarakat terbawah.
Dewan-dewan rakyat ini kemudian akan memilih di antara mereka untuk menjadi
wakil dalam dewan rakyat yang lebih tinggi. Mekanisme yang sama berlanjut
hingga ke tingkat paling tinggi.
-
Modernisasi Rusia maju dengan pesat, terutama
dalam bidang industri dan pertanian. Dalam kurun waktu lebih kurang empat puluh
tahun, Rusia mulai dapat menyamai negara-negara industri lainnya di Eropa Barat
dan Amerika.
-
Meluasnya komunisme di seluruh dunia. Hingga
kini komunisme menjadi factor kekuatan politik dunia yang perlu diperhitungkan.
Naiknya Rezim Bolshevik menjadi faksi terbesar dalam Partai
Pekerja Sosial-Demokrat Rusia (RSDRP), yang kemudian menjadi suatu partai
tersendiri menjadi RSDRP(B) - huruf B
dalam kurung Bolshevik. Sandaran
ideology dan politik kaum Bolshevik adalah Marxisme dan ajaran – ajaran Lenin
seperti : “shto Delat?” (Apa yang harus di lakukan?), “Satu langkah kedepan,
dua langkah ke belakang” dan sebagainya. Dirasa perlunya periode transisi dari
kapitalisme ke sosialisme dimana diktatur proletariat merupakan syarat wajib
bagi masa transisi.
Bila revolusi Februari merupakan
“kemenangan” kaum Borjuis, maka revolusi Oktober 2927 adalah kemenangan kaum
Bolshevik, yang kemudian dikenal dengan sebutan “revolusi proletar”. Lenin
menyebutnya sebagai “Kemenangan kekuasaan Soviet”. Setelah meriah kemenangan di
Petrograd, dengan merebutnya dari Pemerintahan Sementara yang diisi oleh
kelompok Menshenvik, kaum Bolshevik memperluas revolusi ke seluruh pelosok
negeri dengan 2 cara yakni cara damai dan cara kekerasan.
Soviet – soviet serupa muncul
secara pesat pada Revolusi Federasi Februari 1917, dan terus berkembang hingga
Juni 1917 yang menjadi kekuasaan “Tandingan” yang mampu bertarung melawan
Pemerintahan Sementara. Pemerintahan Rusia setelah jatunya Kekaisaran Rusia
sampai terbentuknya Uni Soviet (USSR) adalah pemerintahan Soviet-Rusia (RSFSR).
Uni soviet terbentuk setelah Soviet-Rusia dan republik – republik lainnya seperti
Soviet Ukraina, Soviet Belorusia terbentuk dan menggabungkan diri membentuk
sebuah Uni yang kemudian disebut Uni Soviet.
Sebenarnya istilah “soviet”
sebagai sebuah gerakan politik muncul pertama kali pada masa Revolusi 1905 –
1907 di Ivanovo-Voznesenk pada pertengahan Mei 1905. Soviet pada waktu itu telah
dipersepsi sebagai sebuah organ yang mengatur dan mengkoorinasi perjuangan kaum
pekerja untuk mendapatkan hak – haknya, khususnya di daerah – daerah.
Dalam Revolusi di Rusia yang lebih berperan adalah kaum buruh yang mana
kaum buruh menjadi masa yang cukup ampuh karena jumlahnya yang sangat banyak. kaum
buruh dalam banyak kesempatan, lebih sering atau bahkan lebih di depan
dibandingkan kaum sosialis yang terorganisir. Tak satu pun kaum sosialis yang
membuat teori tentang soviet dan potensinya untuk menjadi suatu pemerintahan
buruh. Buruh-buruh sendiri yang menciptakannya secara relatif spontan, meskipun
dalam babakan sejarah buruh sebelumnya kita juga menyaksikan Komune Paris.
Memang saat itu Kaum Bolshevik tidak bersikap ramah terhadap soviet-soviet dan
bertingkah sektarian dengan menganggap bahwa soviet-soviet berlawanan dengan
suatu partai revolusioner.
DAFTAR PUSTAKA
Brinton, Crane. Anatomi Revolusi. Jakarta: BHRATARA. 1962 di
terjemahkan oleh Drs. Singgih Hadipranowo.
Iskandar, Muhammad. Sejarah Indonesia dalam Perkembangan.
Jakarta: Ganeca Exact. 2007 Hal 157
Kohn, Hans. Dasar Sejarah Rusia Modern. Jakarta: Bhratara.
1966 di terjemahkan oleh Dr. Hasjim Djalal
ROMEIN, JM. AERA EROPA, Peradapan Eropo sebagai Penyimpangan
dari Pola Umum. Jakarta: Ganaco. 1956 di terjemahkan oleh NOER TOEGIMAN.
Skocpol, Theda. Negara dan Revolusi Sosial suatu Analisis
Komparatif tentang Perancis, Rusia, dan Cina. Jakarta: Erlangga di terjemahkan
oleh Kelompok Mitos hal 82 dan hal 138.
Fachrurodji, A. 2005. Rusia Baru Menuju Demokrasi. Jakarta :
Yayasan Obor Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar