Kamis, 22 Oktober 2015

Revolusi Rusia
Oleh Yuli Lestari / 201310360311122
Dosen Pembimbing : Hafid Adim Pradana, MA.
Universitas Muhamamdiyah Malang
 



Pada awal abad ke-19 Rusia merupakan Negara yang terbelakang jika dibandingkan dengan Negara – Negara eropa lainnya. Pada masa pemerintahan Tsar Nicholas II pada tahun 1894 – 1917 pemerintahannya sangat reaksioner dan bersifat otokratis. Namun pasa masa Tsar Nicholas II ekonomi mengalami peningkatan yang sangat signifikan, terutama dalam bidang industry, seperti tekstil, pertambangan, batubara, dan besi. Dengan industry yang pesat inilah akhirnya muncullah kaum buruh. Rusia memiliki 2 golongan yakni kaum bangsawan dan kaum buruh. Dengan kondisi geografis rusia yang menjadikan negara ini menjadi Negara yang agraris dimanfaatkan dengan baik oleh kaum bangsawan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak – benyaknya dengan menjadikan kaum tani sebagai buruh dengan upah yang sangat kecil serta ketidaksetaraan gaji yang diterima.
Lebih parahnya lagi posisi status petani tercatat dan dipertegas dengan adanya undang – undang yang menjelaskan bahwa oetani merupakan budak untuk tuan rumah. Undang – undang ini disahkan oleh Tsar Alexis I pada tahun 1646. Kondisi ini merupakan kondisi yang sangat menyedihkan terutama kaum petani yang berkerja namun mendapatkan gaji yang tidak setimpal.
Rusia juga mengalami sebuah pergejolakan yang menginginkan perubahan di dalam sistem pemerintahannya. Di dalam Revolusi Prancis mencoba menerapkan sama rasa, sama rata. Lalu muncullnah sosialisme, menghendaki masyarakat yang lain coraknya. Karena adanya deskriminasi golongan yang mana kaum buruh yang bekerja keras membanting tulang hanya di beri upah yang tidak sepadan dengan kerja kerasnya, para bangsawan semakin kaya dan kaum buruh semakin miskin. Hal inilah yang mendasari terjadinya Revolusi di Rusia.
Penindasan yang terjadi bertahun – tahun mengakibatkan rasa ketidakpuasan dan kekecewaan masyarakat terhadap kepemimpinan pada saat itu tidak dapat dibendung lagi. Banyak pemogokan dan pemberontakan terjadi. Kondisi pada saat itu benar – benar tidak dapat dikondisikan lagi. Banyak masyarakat yang ingin adanya pembaharuan system pemerintahan karena dirasa system pada saat itu sangat merugikan masyarakat kecil khususnya petani dan parabangsawan mendapatkan keuntungan yang sangat melimpah. Rakyat menuntuk adanya pemerintahan yang liberalisasi dimana terdapat hal yang selaras dengan semboyan mereka yakni sama rasa sama rata.
Pada saat itu Rusia mengalami kekalahan terhadap jepang. Hal ini juga merupakan salah satu alasan yang menyebabkan maysrakat semakin kecewa dengan kepemimpian pada saat itu. Ditengah – tengah situasi yang sedang kacau pada saat itu, Tsar Nicholas II memberikan hawa segar dengan mengambil tindangan dengan menjamin kebebasan berserikat dan pembentukan Duma (DPR).
Permasalahanpun tidak begitu saja berakhir. Duma atau DPR juga menimbulkan masalah baru dimana antara kaum sosialis dan kaum liberal memiliki presepsi yang berbeda. Kaum sosiali menghendaki susunan masyarakat yang sosialis dan liberal menghendaki monarki konstitusional. Akhirnya, Tsar Nicholas II membubarkan Duma. Hal ini juga termasuk salah satu alasan terjadinya Revolusi Rusia.
Tidak hanya itu saja, Susunan pemerintahan Tsar Nicholas bukan berdasarkan kelebihan atau keahlihan dari orang itu sendiri. Jadi, banyak orang yang menduduki beberapa posisi penting di dalam pemerintahan pada saat itu namun tidak memiliki kredibilitas yang cukup. Perbedaan kelas antara bangsawan dan pekerja memang terlihat perbedaanya. Gerakan mencapai puncaknya tahun 1905 karena mendapatkan konsesinya gol. borjuis menghentikan gerakan dan petani telah banyak berjuang. Tani sangat tunduk pada gereja yang bekerja sama dengan pemerintah. Kaum buruh tetap tidak mendapat haknya petani tetap.
Minggu, 9 Januari 1905, ribuan buruh, yang banyak diantaranya menyanyikan himne dan mengusung potret-potret Tsar, dengan penuh kepercayaan bergerak ke Istana Musim Dingin (Winter Palace) untuk menyerahkan petisi mereka. Bukan saja Tsar menolak menemui mereka, pasukan tentaranya malah diperintahkan untuk menembaki buruh. Lebih dari ribuan orang tewas terbunuh dan lebih dari dua ribu menderita luka-luka. Hari ini kemudian dikenal sebagai Minggu Berdarah dan merupakan suatu titik balik bagi gerakan buruh.
Sejak kekalahannya dalam perang melawan Jepang pada tahun 1905, bayangan revolusi selalu tampak di Rusia. Berbagai gerakan rakyat menentang pemerintah ditindas dengan kekerasan senjata. Gerakan tersebut bersifat sporadis dan seberapa pun usaha pemerintah untuk menindasnya, gerakan-gerakan serupa selalu muncul. Akhirnya, revolusi sungguh-sungguh terjadi di tengah Perang Dunia ketika Rusia mengalami kekalahankekalahan besar. Sebab-sebab terjadinya revolusi sebagai berikut.
1. Pemerintahan Tsar Nicholas II yang reaksioner. Ketika negara-negara lain mulai mengakui hak-hak politik bagi warga negaranya, Tsar Nicholas II masih enggan melakukan hal yang sama. Ia memang mengizinkan dibentuknya Duma (daerah perwakilan rakyat Rusia), namun keberadaannya hanya sandiwara belaka. Pemilihan anggota Duma dilakukan dengan pura-pura karena pada praktiknya, anggota Duma adalah orang-orang yang propemerintahan Tsar. Hasil-hasil rapat dan rekomendasi Duma kepada Tsar tidak pernah dihiraukan.
2. Susunan pemerintahan Tsar yang buruk. Pemerintahan pada masa Tsar Nicholas II tidak disusun secara rasional, melainkan atas dasar favoritisme. Tsar tidak memilih orang-orang yang cakap untuk pemerintahannya, orang-orang yang dipilihnya untuk jabatan-jabatan pemerintahan hanyalah orang-orang yang disukainya. Dalam hal ini, Nicholas II sangat dipengaruhi oleh istrinya, Tsarrina Alexandra. Alexandra sendiri sangat dipengaruhi oleh seorang biarawan yang menyebut dirinya sebagai utusan Tuhan, Grigori Rasputin. Alexandra dan Rasputin adalah orang-orang yang sangat kolot dan benci terhadap segala macam paham baru.
3. Perbedaan sosial yang mencolok mata Kondisi kehidupan antara kedua golongan masyarakat di Rusia pada masa itu sangat jauh perbedaannya. Tsar dan para bangsawan hidup mewah dan kaya raya, sementara rakyat, terutama petani dan buruh, sangat miskin dan sengsara. Bangsawan juga memiliki berbagai macam hak yang tidak dimiliki rakyat, bahkan banyak hak rakyat yang diabaikan. Sekalipun perbudakan telah dihapuskan, para bangsawan tetap memperlakukan rakyat biasa seperti budak dalam kehidupan sehari-hari.
4. Persoalan tanah. Perubahan kebijakan agraria oleh Menteri Stolypin pada tahun 1906 hanya menghasilkan perubahan tanah-tanah mir menjadi milik perseorangan anggota mir. Di luar mir, masih banyak tanah berukuran luas yang menjadi milik para tuan tanah, baik bangsawan maupun para kulak (petani-petani besar). Tanah-tanah ini dikerjakan oleh para petani kecil (buruh tani). Para buruh tani ini lalu berusaha menuntut tanah yang seharusnya menjadi miliknya.
5. Adanya aliran-aliran yang menentang Tsar Dalam revolusi pada tahun 1905, aliran-aliran yang menentang Tsar dapat ditindas, tetapi tidak lenyap. Mereka melakukan gerakan bawah tanah dan mengumpulkan kekuatan sambil menunggu kesempatan untuk kembali muncul. Aliran-aliran tersebut sebagai berikut. 1) Kaum liberal yang disebut Kadet (Konstitusional Demokrat). Aliran ini menghendaki Rusia menjadi kerajaan yang berundang-undang dasar. 2) Kaum sosialis menghendaki susunan masyarakat yang sosialis serta pemerintahan yang modern dan demokratis. Kaum sosialis merupakan anasir yang revolusioner dan terbagi lagi atas dua aliran: Mensheviks (moderat atau sosial demokrat) dan Bolsheviks (radikal, kemudian berkembang menjadi partai komunis). Golongan Mensheviks dipimpin oleh Georgi Plekhanou yang kemudian digantikan oleh Kerensky. Adapun golongan Bolsheviks dipimpin oleh Lenin dan Trotsky.
6. Kekalahan perang. Ketika melibatkan diri dalam Perang Dunia I, sebenarnya Rusia tidak mempunyai tujuan perang yang tertentu. Rusia ikut perang karena terikat dan terseret oleh perjanjian-perjanjiannya dengan negara-negara lain, terutama yang tergabung dalam Triple Entente. Keikutsertaan Rusia dalam Perang Dunia I mendapat sambutan dingin dari rakyatnya. Peperangan yang tidak didukung oleh rakyat tentu menghasilkan kekalahan. Kekalahan-kekalahan besar Rusia (pertempuran di Tannenberg dan di sekitar danau-danau wilayah Masuri) semakin mengecewakan hati dan melenyapkan kepercayaan rakyat kepada Tsar. Rakyat mulai jemu pada peperangan dan menginginkan kedamaian.
7. Ancaman bahaya kelaparan. Lima belas juta warga Rusia dimobilisasi untuk perang. Kesejahteraan mereka harus dijamin penuh oleh negara. Sementara, banyaknya orang yang dikirim ke medan perang berakibat kurangnya tenaga kerja, baik dalam bidang industri maupun pertanian. Macetnya industri dan pertanian ini menimbulkan bahaya kelaparan sebab kurangnya bahan makanan. Perekonomian negara pun menjadi kacau balau.
Revolusi ini dimotori oleh orang-orang Kadet, Mensheviks, dan Bolsheviks. Tujuannya adalah untuk menggulingkan Tsar. Revolusi dimulai di Petrograd (sekarang Leningrad) berupa demonstrasi yang menuntut turunnya Tsar, diikuti oleh pemogokan di perusahaan-perusahaan. Tentara yang diperintahkan menembaki para pemogok dan demonstran berbalik menembaki opsir-opsirnya sendiri. Revolusi berdarah pun meletus. Tsar ditawan dan dipaksa turun takhta.
Jika Revolusi pada tahun 1905 tidak menggunakan pemberontakan tetapi dengan masa yang banyak dapat terjadi tetapi hasilnya tidak menyeluruh hanya kaum borjuis saja yang menikmati hasilnya kaum buruh tetap miskin dan kaum petani tetap saja bodoh karena percaya terhadap gereja. Gerakan bergolak tahun 1917 saat Rusia kalah perangDunia I. Dia memihak perancis dan Inggris melawan Jerman dan Austria. Mekipun tentara Rusia banyak tapi tidak disiplin.
Revolusi 1917 dikenal dengan istilah Borjuis-demokrasi. Revolusi ini mengakhiri kekuasaan monarki Rusia, memutus kekuasaan garos keturunan dinasti Rumanov, dan memberikan dasaran bagi kehidupan yang lebih demokratis sesuai dengan tuntutan zaman di awal abad XX. Revolusi ini terjadi karena krisi baik yang terjadi di kalangan atas maupaun kalangan bawah. Pengumuman pemberhentian sekitar 30 ribu pekerja di Petrograd. Banyak terjadi pemogokan besar – besaran akibat keputusan tersebut.
Revolusi ini telah mengakhiri system monarki yang terlah berlangsung berabad – abad di tanah Rusia. Setelah jatuhnya Tsar, kekuasaan berada dalam Tarik – menarik dua kekuatan basar yaitu Pemerintahan sementara di satu sisi, dengan Dewan Pekerja dan Prajurit Petrograd di sisi lain. Walaupun pemerintah sementara lebih memiliki legitimasi, namun secara rill kekuasaan dipegang oleh Soviet Petrograd.
Pada tanggal 10 April 1917, Lenin kembali ke Rusia dari perantauannya ke Jerman, Prancis, Inggris, Austria, dan Swiss sejak tahun 1907. Renacana revolusi oktober memang telah di rancang oleh Lenin. Pada tahun yang sama, Leon Trotsky (Bronstein) tiba di Rusia dari Amerika. Kedua orang ini lalu menjadi motor penggerak kaum Bolsheviks yang berpaham komunis di Rusia.
Pada saat pemerintahan Mensheviks kehilangan kepercayaan rakyat, kaum Bolsheviks memanfaatkannya dengan segera merangkul rakyat. Mereka menganjurkan para petani agar membagi-bagikan tanah dan menganjurkan para buruh untuk menyita pabrik-pabrik. Sebelum menyerang Istana Musim Dingin, yang merupakan symbol kekuasaan pemerintah, untuk ‘menghabisi’ Pemerintahan Sementara, Bolshevik menguasai terlebih dahulu objek – objek vital seperti jembatan, stasiun kereta api, pembangkitan listrik, bank dan sebegainya. Pendekatan ini mendapat dukungan dan simpati dari rakyat. Dimulailah revolusi kedua ala Bolsheviks. Revolusi kedua ini dimulai dari Petrograd lagi. Tentara dan angkatan laut di Petrograd memihak Lenin, disusul dukungan dari tentara-tentara Difron.
Revolsui meliputi beberapa peristwa penting yaitu Kudeta Petrorgrad pada tanggal 25 Oktober 1917 mengumumkan tentang pemindahan kekuasaan dari Pemerintahan Sementara (PS) ke Komite Militer Revolisioner (VRK) pimpinan Pavel Lazimir. Pada saat itu juga diumumkan beberapa tuntutan rakyat yang berisi pembentukan perdamaian yang demokratis, penghapusan kepemilikan tanah oleh para tuan rumah, pengenalan control pekerja atas produksi, dan pembentukan Pemerintahan Soviet. Kedua, terjadinya Sidang Soviet seluruh-Rusia II berlangsung selama 3 hari (25-27 Oktober 1917) membentuk Pemerintahan Soviet yang dikenal dengan Soviet Komisaris Rakyat (SNK) dan juga membentuk Komite SentralEksekutif Seluruh Rusia.
Pada tanggal 25 Oktober 1917, pemerintahan Mensheviks digulingkan dan kaum Bolsheviks mengambil alih kekuasaan pemerintahan. Setelah itu, segera diadakan perubahanperubahan besar. Setelah kaum Bolsheviks memegang pemerintahan Rusia, para pengikut Tsar yang masih setia berusaha melakukan pemberontakan. Mereka menyebut dirinya kaum Rusia Putih (lawan dari kaum Bolsheviks yang disebut kaum Rusia Merah/Komunis). Mereka dipimpin oleh Jenderal Denikin dan Wrangel. Sekutu (Inggris, Amerika Serikat, Prancis, dan lain-lain) segera memihak kaum Rusia Putih, tidak semata-mata karena mereka antikomunis, melainkan juga dikarenakan adanya kekhawatiran menghadapi penghentian perang antara Rusia dan Jerman.
Inggris, Amerika Serikat, dan Prancis menyerbu Rusia dari arah timur (Vladivostok), utara (Murmansk), barat (Estonia dan Turki), dan selatan (Laut Kaspia). Akan tetapi karena front-front negera-negara pengintervensi ini terpisahpisah jauh dan kurang sekali adanya koordinasi antara front-front tersebut, intervensi ini gagal. Kaum Rusia Putih rontok dan lebur. Sekeluarnya dari perang saudara antara Rusia Putih dan Rusia Merah, kaum Bolsheviks menjadi semakin kuat dan bersatu.
Akibat-akibat Revolusi Komunis 1917 :
-          Dihapuskannya pemerintahan Tsar yang kolot untuk selamanya. Pemerintahan diubah dengan sistem satu partai (pemerintahan dipegang oleh satu partai). Cobalah bandingkan dengan sistem satu partai di Jerman (Hitler dengan NAZI-nya) dan di Italia (Mussolini dengan fasismenya).
-          Timbulnya demokrasi Soviet sebagai lawan dari demokrasi liberal. Demokrasi liberal atau parlementer dianggap Lenin kurang demokratis sebab biasanya parlemen diduduki oleh orang-orang dari kelas menengah ke atas, sementara rakyat jelata tidak tahu apaapa. Lenin lebih suka membentuk dewan-dewan rakyat (Soviet) yang mewakili suara masyarakat terbawah. Dewan-dewan rakyat ini kemudian akan memilih di antara mereka untuk menjadi wakil dalam dewan rakyat yang lebih tinggi. Mekanisme yang sama berlanjut hingga ke tingkat paling tinggi.
-          Modernisasi Rusia maju dengan pesat, terutama dalam bidang industri dan pertanian. Dalam kurun waktu lebih kurang empat puluh tahun, Rusia mulai dapat menyamai negara-negara industri lainnya di Eropa Barat dan Amerika.
-          Meluasnya komunisme di seluruh dunia. Hingga kini komunisme menjadi factor kekuatan politik dunia yang perlu diperhitungkan.
Naiknya Rezim Bolshevik menjadi faksi terbesar dalam Partai Pekerja Sosial-Demokrat Rusia (RSDRP), yang kemudian menjadi suatu partai tersendiri menjadi RSDRP(B)  - huruf B dalam kurung Bolshevik. Sandaran ideology dan politik kaum Bolshevik adalah Marxisme dan ajaran – ajaran Lenin seperti : “shto Delat?” (Apa yang harus di lakukan?), “Satu langkah kedepan, dua langkah ke belakang” dan sebagainya. Dirasa perlunya periode transisi dari kapitalisme ke sosialisme dimana diktatur proletariat merupakan syarat wajib bagi masa transisi.
Bila revolusi Februari merupakan “kemenangan” kaum Borjuis, maka revolusi Oktober 2927 adalah kemenangan kaum Bolshevik, yang kemudian dikenal dengan sebutan “revolusi proletar”. Lenin menyebutnya sebagai “Kemenangan kekuasaan Soviet”. Setelah meriah kemenangan di Petrograd, dengan merebutnya dari Pemerintahan Sementara yang diisi oleh kelompok Menshenvik, kaum Bolshevik memperluas revolusi ke seluruh pelosok negeri dengan 2 cara yakni cara damai dan cara kekerasan.
Soviet – soviet serupa muncul secara pesat pada Revolusi Federasi Februari 1917, dan terus berkembang hingga Juni 1917 yang menjadi kekuasaan “Tandingan” yang mampu bertarung melawan Pemerintahan Sementara. Pemerintahan Rusia setelah jatunya Kekaisaran Rusia sampai terbentuknya Uni Soviet (USSR) adalah pemerintahan Soviet-Rusia (RSFSR). Uni soviet terbentuk setelah Soviet-Rusia dan republik – republik lainnya seperti Soviet Ukraina, Soviet Belorusia terbentuk dan menggabungkan diri membentuk sebuah Uni yang kemudian disebut Uni Soviet.
Sebenarnya istilah “soviet” sebagai sebuah gerakan politik muncul pertama kali pada masa Revolusi 1905 – 1907 di Ivanovo-Voznesenk pada pertengahan Mei 1905. Soviet pada waktu itu telah dipersepsi sebagai sebuah organ yang mengatur dan mengkoorinasi perjuangan kaum pekerja untuk mendapatkan hak – haknya, khususnya di daerah – daerah.
Dalam Revolusi di Rusia yang  lebih berperan adalah kaum buruh yang mana kaum buruh menjadi masa yang cukup ampuh karena jumlahnya yang sangat banyak. kaum buruh dalam banyak kesempatan, lebih sering atau bahkan lebih di depan dibandingkan kaum sosialis yang terorganisir. Tak satu pun kaum sosialis yang membuat teori tentang soviet dan potensinya untuk menjadi suatu pemerintahan buruh. Buruh-buruh sendiri yang menciptakannya secara relatif spontan, meskipun dalam babakan sejarah buruh sebelumnya kita juga menyaksikan Komune Paris. Memang saat itu Kaum Bolshevik tidak bersikap ramah terhadap soviet-soviet dan bertingkah sektarian dengan menganggap bahwa soviet-soviet berlawanan dengan suatu partai revolusioner.

DAFTAR PUSTAKA

Brinton, Crane. Anatomi Revolusi. Jakarta: BHRATARA. 1962 di terjemahkan oleh Drs. Singgih Hadipranowo.
Iskandar, Muhammad. Sejarah Indonesia dalam Perkembangan. Jakarta: Ganeca Exact. 2007 Hal 157
Kohn, Hans. Dasar Sejarah Rusia Modern. Jakarta: Bhratara. 1966 di terjemahkan oleh Dr. Hasjim Djalal
ROMEIN, JM. AERA EROPA, Peradapan Eropo sebagai Penyimpangan dari Pola Umum. Jakarta: Ganaco. 1956 di terjemahkan oleh NOER TOEGIMAN.
Skocpol, Theda. Negara dan Revolusi Sosial suatu Analisis Komparatif tentang Perancis, Rusia, dan Cina. Jakarta: Erlangga di terjemahkan oleh Kelompok Mitos  hal 82 dan hal 138.
Fachrurodji, A. 2005. Rusia Baru Menuju Demokrasi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar